Kamis, 30 Juni 2011

Apakah Saya Sudah Nasionalis ?

 
Judul tulisan saya di atas yang berupa pertanyaan bukan untuk Anda, tapi untuk saya sendiri. Terkadang saya merasa aneh saja membicarakan dan mendiskusikan tentang nasionalisme. Karena bagi saya nasionalisme bukan hanya sekedar satu topik dalam studi ilmu ketatanegaraan. Nasionalisme bukan sekedar itu, dia adalah sikap dan tindakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Saya selalu menolak dengan halus untuk diundang dalam sebuah forum yang membicarakan tentang nasionalisme. Bukannya saya sudah hafal tentang seluk beluk nasionalisme mulai dari apa yang dipaparkan Soekarno, Benendict Anderson, Mahatma Gandhi, Sun Yat Sen, atau negarawan dan akedemisi lainnya. Bukan, bukan itu. Terus terang saya minder ketika mendiskusikan tentang topik yang satu ini. Jangankan untuk jadi pembicara, jadi peserta saja dalam sebuah diskusi tentang nasionalisme saya minder. Apalagi jika otak saya telah muncul pertanyaan “apakah saya sudah nasionalis ?”  

Dan sampai hari ini, saya belum dapat menjawab pertanyaan ini. Maka, bagi Anda yang kebetulan membaca tulisan saya ini, tolong jawab pertanyaan saya itu. Apakah saya sudah nasionalis ?. Jawab dengan jujur saja, biar tidak ada dusta diantara kita. 


Menjadi Pilot Itu Mudah



Menjadi pilot itu mudah. Demikian kesimpulan obrolan warung kopi kemarin antara Saridin dan kawannya yang sekarang sedang menyelesaikan studinya di PT National Aviation Management Flying School (NAM) yang didirikan PT Sriwijaya Air. Menurut kawannya itu, setiap orang bisa menjadi pilot. Menerbangkan pesawat terbang itu seperti mengendarai sepeda motor dan mobil.

Sebenarnya pesawat terbang itu sudah dilengkapi dengan peralatan dan navigasi yang canggih. Hampir semuanya sudah serba otomatis. Bahkan tanpa pilot, pesawat sudah dapat terbang menuju bandara tujuan. Dalam tugasnya di dalam kokpit pesawat, pilot dibantu oleh seorang ko-pilot. Selama penerbangan berlangsung semenjak take off hingga landing, pilot dan ko-pilot akan mengikuti jalur-jalur penerbangan yang telah terprogram melalui bantuan navigasi pesawat dan mengikuti informasi yang diberikan oleh menara kontrol lalu-lintas bandar udara.

Minggu, 26 Juni 2011

Mengenang Warkop DKI

Apakah Anda pecinta film group lawak Warko DKI? Group lawak yang semula bernama  Warung Kopi Prambors ini memang personilnya tak lengkap lagi.Yang tersisa sekarang tinggal Indro, sedangkan Nanu, Dono, Kasino telah beristirahat dengan tenang di sisi-Nya. Meskipun demikian, kenangan akan lawakan dan humornya masih melekat dalam ingatan saya. Selain karena lucu dan kreatif, warkop versi dulu lebih sering menggelitik dengan lagu-lagu dan lawakannya.

Untuk mengenang Warkop DKI, sampai-sampai nada dering untuk Hp saya aktifkan Nyanyian Kode. Lagu ini diambil dari salah satu adegan dari sekian filem Warko DKI. Adegan ini menceritakan ketika Dono dan Kasino menjadi pencopet, judulnya filmnya saya lupa. Mereka berdua beraksi di sebuah rumah makan. Mereka menyamar menjadi pengamen, Kasino yang nyanyi sedangkan Dono mengiringi dengan alat musik ecek-ecek.

Kangen Dengan Cerpen Indonesia

Sudah lama Saridin tak membaca cerpen-cerpen Indonesia yang pernah dimuat di media cetak. Dia kangen dengan keindahan gaya bahasa yang dimainkan oleh cerpenis-cerpenis Indonesia. Luar biasa, cerpenis Indonesia seperti pemain sirkus yang akrobatik memainkan bahasa, gumam Saridin suatu kali.

Namun kerinduan Saridin untuk membaca cerpen-cerpen Indonesia tak kunjung tersampaikan seminggu ini. Saridin kini jatuh miskin tak berpenghasilan. Jangankan untuk membeli koran, membeli makanpun sudah sulit.
 Akhirnya Saridin hanya bisa meminjam laptop salah satu kawan kosnya yang terkoneksi internet.

Sial, lagi-lagi kerinduan Saridin untuk menikmati cerpen-cerpen Indonesia tidak tersampaikan. Situs yang selama ini memuat cerpen-cerpen Indonesia yang pernah dimuat di media cetak http://www.sriti.com/  tidak dapat diakses.

Padahal situs ini telah mempunyai sekitar 5000 cerpen yang pernah dimuat di media cetak Indonesia. Coba saja Anda buka situs ini, yang kita dapati adalah tulisan di bawah ini :


Bandwidth Limit Exceeded
The server is temporarily unable to service your request due to the site owner reaching his/her bandwidth limit. Please try again later.


Sebagai pecinta sastra Indonesia tentunya Saridin bersedih, doa Saridin satu-satunya hari ini semoga Sriti.com dapat segera online kembali.

Mau ?

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India